27 November 2019

SOLOK, KABARSUMBAR – Maraknya pariwisata kreatif akhir-akhir ini, juga semakin memperkaya potensi wisata di Sumatera Barat. Dengan melibatkan partisipasi masyarakat sebagai pengelola objek wisata.

Salah satunya yang ada di Kabupaten Solok. Disini, cukup banyak pariwisata alam yang awalnya hanya tempat biasa, disulap menjadi objek wisata, seperti puncak Gagoan di Kecamatan Junjung Sirih, Rumah pohon di Kecamatan X Koto Singkarak, dan lainnya.

Kini ada sungai warna warni di Nagari Jawi-Jawi, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok sebagai destinasi terbaru bagi para pelancong.

Melalui ide kreatif masyarakat, tempat yang awalnya tidak memiliki hal spesial diubah menjadi kawasan yang bisa menarik perhatian pengunjung.

Sungai warna-warni merupakan sungai yang melintasi Nagari Jawi-Jawi Guguak, Kecamatan Gunung Talang. Seperti sungai di dataran tinggi, aliran airnya cukup deras, bebatuan besar maupun kecil berserakan di sepanjang sungai. Salah satu spot yang cukup menarik perhatian di Kawasan Lubuk Kuok.

Di Lubuk Kuok tersebut, ratusan batu dihias dengan berbagai macam mural dan lukisan, mulai dari mural berupa pesan, ucapan selamat, hingga mural lucu membalut seluruh batu di kawasan tersebut, dengan paduan warna-warna unik, sungai tersebut terkesan kaya warna dan enak dipandang mata.

Tempat tersebut sekarang menjadi instagramable dan sangat menarik untuk berfoto.

Di kawasan itu, juga ada sebuah jembatan baja yang membentang melengkung di atas sungai, sebagai penghubung antara pemukiman masyarakat dengan seberang sungai yang sebagian besar adalah lahan pertanian.

Namun lokasi Sungai warna warni tersebut masih asri, kiri kanan sungai dipenuhi pepohonan rindang nan sejuk, serta cukup jauh dari pemukiman penduduk, tapi akses jalan kesana sudah sangat bagus.

Di sungai warna-warni tersebut, karena aliran sungainya cukup deras, untuk menguji adrenalin pengunjung, juga disediakan ban dalam ban mobil bagi pengunjung yang ingin bermain dengan derasnya air sungai, meski demikian, tentunya aksi bermain dengan benen tersebut diawasi oleh pemuda setempat yang bertindak sebagai pemandu wisata.

Untuk menuju ke Sungai warna-warni, pengunjung menuju Nagari Jawi-Jawi yang berjarak sekitar tujuh kilometer dari Tugu Ayam atau Kantor Bupati Solok, Arosuka.

Setiba di Jawi-Jawi, tepat didepan Kantor Wali Nagari Jawi-Jawi, pengunjung bisa masuk melalui simpang dekat kantor Walinagari tersebut, sekitar satu kilometer menuju lokasi, mobil dan motor pun bisa masuk ke lokasi Sungai warna-warni.

Tapi sebaiknya dari kantor Wali Nagari berjalan kaki menuju Sungai warna-warni, agar lebih bisa menikmati suasana sungai.

Seorang pengunjung Taufik mengatakan, salut akan kreatifitas pemuda Jawi-jawi, dengan memunculkan ide menarik di sungai tersebut, semakin menambah gairah pariwisata, apalagi ekonomi masyarakat juga terbantu dengan ide tersebut.

“Yang penting, jangan membuang sampah sembarangan, saya harapkan disini ada disediakan tong sampah, agar pengunjung tidak sembarangan membuang sampah,” katanya.

Sementara itu, Wali Nagari Jawi-Jawi Guguak, Laswir menyebut pihaknya akan menggali lebih dalam potensi-potensi nagari yang memungkinkan untuk spot-spot baru, dibantu oleh Tourism Development Centre Unand.

Kemudian akan dilakukan pembenahan infrastruktur menjadi prioritas Jawi-Jawi seperti akses ke lahan persawahan, kemudian memacu masyarakat untuk lebih kreatif dalam memproduksi produk-produk asli nagari.

“Kita usahakan kedepannya bagaimana pariwisata ini membuahkan nilai tambah bagi perekonomian kerakyatan, tentu tanpa mengurangi nili-nilai yang terkandung dalam budaya dan adat-istiadat Nagari” katanya.

Sebagai Kampung Budaya, Nagari Jawi-Jawi, Kecamatan Gunung Talang mendapat perhatian dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Nagari ini diprioritaskan untuk menjadi 10 besar Desa Wisata Nasional dan merupakan satu-satunya nagari di Sumbar yang masuk dalam binaan Kementerian Pariwisata.

https://www.kabarsumbar.com/berita/sungai-warna-warni-destinasi-baru-berwisata-di-kabupaten-solok/

27 November 2019

 

REPUBLIKA.CO.ID, BATUSANGKAR -- Kampung Minang Nagari Sumpu Kecamatan Batipuh Selatan Tanah Datar, Sumatera Barat, menawarkan wisata berbasis kearifan lokal kepada wisatawan. Ketua Komunitas Kampung Minang, Kamrita di Sumpu, Kamis, mengatakan pihaknya telah menyiapkan beberapa destinasi serta atraksi budaya untuk dapat dinikmati oleh pengunjung.

"Berkunjung ke Kampung Minang, wisatawan dapat menikmati kearifan lokal masyarakat dalam bentuk wisata budaya serta wisata alam," katanya.

Tidak hanya itu, ia menyebutkan di Kampung Minang wisatawan juga dapat menikmati wisata edukasi. Seperti memetik sawo, menanam padi hingga hal berkaitan dengan kuliner.

Dalam hal wisata alam, pengunjung dapat menikmati panorama Danau Singkarak dari Puncak Tubia. Selain itu juga ada Batu Baraguang yang terdapat di pinggir danau. Sementara untuk wisata budaya wisatawan nantinya dapat menyaksikan penampilan randai, silat dan tari-tarian khas Minang.

"Selain menyaksikan, wisatawan juga dapat mempelajari kesenian tersebut secara langsung," ujarnya.

Ia menambahkan, pada 2017, juga sudah diselenggarakan Festival Pesona Sumpu dengan beberapa agenda untuk memperkenalkan Sumpu lebih jauh. Menurutnya tamu yang datang ke daerah tersebut tidak hanya untuk berwisata, akan tetapi juga ada yang datang untuk melakukan penelitian, sebab Sumpu terkenal dengan keberadaan rumah gadang yang sudah berumur cukup tua.

"Untuk penginapan kami menyediakan penginapan di rumah gadang, sehingga pengunjung dapat merasakan bermalam di rumah tradisional Minang," kata dia.
Direktur Tourism Development Centre Universitas Andalas Padang, Sari Lenggogeni Ph.D menilai kampung minang sumpu memiliki nilai yang tinggi dalam hal wisata alam dan budaya.

Menurut dia, dalam hal wisata alam Kampung Minang Sumpu memiliki kekuatan dengan keberadaan danau, perbukitan serta sawah. Pengembangan wisata di daerah tersebut dapat diarahkan pada wisata minat khusus berbasis kearifan lokal.

 

Sumber asli: https://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/18/03/15/p5mnwl423-kampung-minang-sumpu-tawarkan-wisata-kearifan-lokal

26 November 2019

Evaluasi 3A 2P Destinasi Sumbar Project Penelitian Bersama Bank Indonesia

 

09 Oktober 2019

Konferensi Internasional Pariwisata Berkelanjutan di Daerah Rawan Bencana

Berpikir tentang dunia pariwisata, sama dengan berpikir tentang masa depan. Artinya, dunia pariwisata aset jangka panjang yang harus dipersiapkan dari sekarang. Semua daerah memiliki potensi dalam pengembangan pariwisata, termasuk daerah-daerah yang rawan bencana seperti Sumbar.

Pusat Pengembangan Pariwisata Universitas Andalas (Unand) menyebutkan, hampir seluruh kabupaten dan kota di Sumbar memiliki potensi wisata dengan keunggulannya masing-masing. Pemerintah kabupaten dan kota pun berlomba-lomba menumbuhkembangkan pariwisata di daerah masing-masing. Namun, hal tersebut masih belum diiringi sumber daya manusianya.

Selain itu, meski berada di daerah rawan bencana, bukan berarti daerah takut menumbuh kembangkan potensi wisata yang dimilikinya. “Berbicara soal dunia pariwisata, tidak terlepas dari faktor eksternal. Seperti berpikir tentang masa depan, dan satu lagi kita juga harus berpikir jika kita berada di kawasan rawan bencana. Saat ini, kita hanya berpikir sesaat dan tidak memikirkan 10 tahun ke depan.

Kita juga tidak punya proteksi destinasi, dan regulasi untuk wisatawan,” ujar Direktur Pusat Pengembangan Pariwisata Unand Dr Sari Lenggogeni dalam International Conference 2019 yang digelar Tourism Development Center Unand di Istana Bung Hatta Bukittinggi, Selasa (1/10).

Dalam konferensi bertema “Sustainable Tourism Development in Disaster Prone Destinations” ini, Sari juga mengingatkan perlunya konektivitas semua pihak yang pariwisatanya berada di kawasan rawan bencana. Misalnya, sebelum bencana itu terjadi, harus benar-benar dipersiapkan orang-orang yang menanganinya. Harus terstruktur dan bersinergi. “Yang terjadi selama ini, jika terjadi bencana malah semuanya punya tindakan berbeda. Tidak ada yang terstruktur sehingga tidak adanya konektivitas,” tukas doktor lulusan Queensland University, Australia ini.

Konferensi internasional ini, menghadirkan nara sumber dari dalam dan luar negeri yang ahli dalam bidang pariwisata termasuk di daerah rawan bencana, seperti Profesor Noel Scott dari University of Sunshine Coast Australia sebagai keynote speaker, dan Dr Lynn I-Ling Chen dari Departement of Tourism, Recreation and Leisure Studies, National Dong Hwa University, Hualien Taiwan. Lalu, Ketua PHRI Indonesia Haryadi Sukamdani dan partisipan dari berbagai daerah di Sumatera.

Sari Lenggogeni menyebutkan, berbicara pariwisata adalah berbicara dari sumber daya manusia. Semua unsur harus terlibat dan siap dalam mengembangkan dunia pariwisata, mulai dari pemerintah hingga pelaku wisata dan masyarakat sendiri. Kemudian, harus memiliki pandangan dan visi yang sama, mulai dari pusat hingga ke daerah, termasuk akademisi yang pikirannya bisa dipakai. “Begitu pula industri pariwisata yang dalam hal ini sebagai pemain dan bersentuhan langsung dengan wisata,” jelas pakar yang sering turun ke destinasi menginisiasi pengembangan pariwisata daerah ini.

Dia berharap, lewat konferensi internasional pariwisata pertama di Sumbar ini bisa menyosialisasikan bagaimana membangun kerja sama yang tepat antara semua lini. Bagaimana membangun pariwisata meski berada di daerah rawan bencana dengan cara menyatukan pandangan. “Apalagi kita memiliki potensi wisata terutama yang masih alami, dan itu banyak diminati wisatawan luar negeri, “ jelasnya.

Sari melihat Sumbar baru bergerak dalam membangun pariwisata. Masih banyak mengabaikan proteksi destinasi pariwisata berkelanjutan. “Kita memikirkan sebentar, tapi tidak berpikir jangka panjang, termasuk kesiapan SDM kita sendiri. Ini yang perlu mendapatkan perhatian serius semua pihak,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Profesor Noel Scott terkait ketidaksiapan pelaku wisata saat berada di dalam krisis atau bencana. Menurutnya, harus dibangun lebih awal adalah kerja sama yang tepat, misalnya kesamaan pikiran atau visi dari pusat hingga ke daerah. “Saat terjadi bencana, semua pihak sudah siap untuk kembali bangun dan tidak larut dalam bencana,” ingatnya.

Sementara itu Dr Lynn I-Ling Chen mengatakan, Sumbar memiliki pariwisata wisata natural yang mesti dibangun bersama-sama. Potensi itu bila dikemas dengan baik bisa menjadi sebuah produk wisata bernilai tinggi. “Jadi perlu membangun kesadaran untuk mengelola dan mengemas sesuatu yang nature itu menjadi destinasi wisata,” ujarnya.

Sedangkan Haryadi Sukamdani mengingatkan Sumbar sebagai daerah bencana agar tidak perlu khawatir dalam membangun sektor pariwisata. “Yang paling penting adalah kecepatan dalam membangun kembali setelah bencana. Sepanjang pembangunan kembali dalam waktu dekat, maka pariwisata juga akan cepat kembali bangkit,” ujarnya.

Yang tidak kalah penting, kata dia, pemda harus menentukan terlebih dahulu daerah yang rawan bencana atau red zone. Lalu, disesuaikan struktur bangunan seperti apa yang cocok didirikan di daerah itu. “Intinya, daerah harus mempersiapkan semua peralatan dan sarana. Memang kita tidak tahu kapan akan terjadi bencana, tapi bukan berarti kita tidak harus membangun. Hanya saja kesiapan kita sejauh mana, seperti daerah rawan tsunami, pemerintah harus mempersiapkan alat seperti sensor gempa agar peringatan dini bisa bekerja secara efektif,” kata Haryadi.

Ketua Panitia Konferensi Internasional Dr Maruf mengatakan, kegiatan ini dilakukan sebagai salah satu upaya Pusat Pengembangan Pariwisata Unand memberikan sosialisasi kepada pelaku wisata agar pengembangan pariwisata tidak mentok karena alasan berada di kawasan rawan bencana.

“Dengan menghadirkan narasumber yang ahli d bidangnya, akan menambah pengetahuan pelaku wisata serta dapat memacu semangat kita dalam membangun pariwisata berkelanjutan. Karena kita memiliki potensi yang sangat banyak untuk dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata domestik dan internasional,” tukasnya. (*)

 

Sumber: https://padek.co/koran/padangekspres.co.id/read/detail/133000/Siapkan-SDM--Regulasi-dan-Proteksi-Destinasi

27 Maret 2019

Sumber : Republika

(Sumber : REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA) -- Peraturan Daerah (Perda) Wisata Halal Provinsi Sumatra Barat diperkirakan segera rampung pada tahun ini. Perda ini akan mencakup beberapa perspektif mengenai apa saja aspek yang harus diwajibkan untuk membangun prinsip- prinsip wisata halal.

Ketua Tim Ahli Penyusunan Perda Wisata Halal, Sari Lenggogeni mengungkapkan, Perda ini nantinya akan menyamakan persepsi masyarakat mengenai wisata halal yang saat ini masih bias.
 

"Intinya masalah pemahaman pariwisata halal, yang jadi bias di masyarakat bahwa wisata halal sama dengan wisata religi. Draft sudah rampung, Inshaallah tahun ini atau tahun depan setelah RIPPAR (Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Provinsi) selesai, ini akan jalan," ujar Sari kepada Republika.co.id, Senin (25/3).

Penyusunan draft Perda ini sudah dimulai sejak 2017. Menurut Sari, tidak adanya Perda mengenai hal ini yang menyebabkan wisata halal dinilai masih kurang berkembang. Regulasi ini harus diperkuat ke Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

Adanya regulasi ini akan membantu masyarakat untuk menyamakan persepsi atau memahami mengenai wisata halal. Sementara itu bagi para stakeholder, Perda akan membantu untuk membangun arah atau roadmap wisata halal yang harus didukung oleh Kementerian Pariwisata.

Menurut Sari, sosialiasi atau pemasaran mengenai wisata halal akan kurang efektif jika tidak memiliki roadmap. Dia menilai, pemasaran adalah hal terakhir dalam pengembangan pariwisata. Karena apabila pemasaran dilakukan sedangkan produk tidak siap, maka produk akan hancur karena tidak ada keberlanjutan.

"Pariwisata halal mendukung pariwisata berkelanjutan, karena mempertahankan reservasi local wisdom," kata Pakar Pariwisata Universitas Andalas ini.

Beberapa hal yang akan dicantumkan dalam Perda antara lain mengenai apa saja yang harus disediakan untuk membangun prinsip- prinsip wisata halal. Pertama, masjid atau mushola yang terkelola dengan baik. Kedua, pengawasan industri. Karena walaupun mereka percaya wisata negara mayoritas muslim makanannya pasti halal, namun perlu ada pengawasan dari lintas dinas setempat.

Apalagi di Indonesia banyak industri yang sangat mikro seperti warung dan kaki lima yang akan muncul di keramaian. Dan ini belum ada keteraturan, kata Sari, karena perekonomian kita belum merata secara distibrutif. "Inilah yang pada akhirnya terkecoh. Contohnya ada sate babi di padang, di daerah yang mayoritas muslim dan diyakini pasti semua makanan halal," jelasnya.

Ketiga, perlu ada investasi untuk mendukung industri wisata-wisata halal. Selama ini pengembangan masih menggunakan insentif dan subsidi yang masih terbatas, sementara UMKM jumlahnya banyak. Menurut Sari, inilah yang perlu didukung bersama, apakah sistemnya melalui subsidi pemerintah atau CSR terhadap untuk home industry, seperti untuk membantu sertifikasi halal.

Dikutip dari: https://m.republika.co.id/berita/ekonomi/syariah-ekonomi/19/03/25/poxcoz415-perda-wisata-halal-sumbar-rampung-tahun-ini

27 Maret 2019

(Sumber Foto: SumbarProv)

(Sumber : SumbarProv). Penyusunan Peraturan Daerah (Perda) wisata halal Sumatera Barat, mulai berjalan. Aturan yang diharapkan mampu menegaskan keberadaan wisata halal di Sumbar akan masuk prolegda 2018.

“Tim ahli sudah memulai prosesnya sudah dimulai sejak 5 bulan lalu. Tahun 2018 masuk dalam Prolegda, untuk dijadikan Perda,” sebut Didit P Santoso, Kabid Pemasaran, mewakili Kadispar Sumbar ketika membuka Focus Group Discusion (FGD), (Senin, 20/11).

Tim ahli terdiri dari Syaifullah dari LPPOM MUI Sumbar, Zainal dari dewan fatwa MUI Sumbar, Rahmat Ira dari LKAAM Sumbar, Antosiono dan dipimpin Sari Lenggogeni dari Universitas Andalas.

Dalam FGD itu, tim ahli menyatakan akan menampung masukan dari tokoh yang diundang, pelaku industri dan kabupaten kota.

Dalam pengantarnya, ketua tim, Sari Lenggogeni menyampaikan mendapatkan informasi dari Biro Hukum Pemprov Sumbar, Perda wisata halal sebaiknya tidak memakai kata “halal”. Karena kata “halal” dan “syariah” akan ditolak Kemendagri, seperti Perda zakat yang pernah diajukan dulu. “Kalau saya pribadi jika tanpa kata halal ini akan sama dengan Ripda (Rencana Induk Pariwisata Daerah-red). Dari aspek kita masyarakat madani yang mengacu kepada ABS ABK (Adat Basandi Syarak dan Syarak Basandi Kitabullah - red), ini merupakan identitas Sumatera Barat. Makanya kita minta bapak ibu, akan kita lanjutkan dengan nama halal atau tanpa nama halal,” tanyanya kepada audien.

Hal yang sama juga disampaikan tim ahli lain, Antosiono, FGD dimaksudkan untuk mendudukan konsep wisata halal tersebut. Sedangkan informasi penolakan itu menurut pendapatnya karena Perda adalah urusan provinsi, sedangkan urusan agama, kewenangannya ada di pusat.

Hadir dalam FGD tahap awal itu, akademisi, ketua lembaga masyarakat, pimpinan media dan pihak terkait lainnya.

Tentang adanya penolakan tersebut audiens meminta  agar ditelusuri ulang kepastian informasi. Untuk diketahui Perda wisata halal sudah ada di Lombok, dan Indonesia telah memiliki OJK Syariah dan Perbankan Syariah. Indonesia juga mengatur tentang produk dan layanan halal.

“Jika terkait dengan Perda zakat dulu, penolakannya karena adanya aturan zakat yang sedang dibahas  secara nasional. Bukan karena unsur agama,” sebut Gusrizal Gazahar, ketua MUI Sumatera Barat.

Ia juga meminta tim ahli mendudukan kembali makna dari halal dan madani. “Halal ini sub bagian syariah atau gara - gara di dunia sedang hangat tentang wisata halal. Ujung - ujungnya kan keuntungan ekonomi. Kalau saya usul, agar wisata halal itu mengacu ke syariah. Jangan kita pakai label halal, karena motif ekonomi, tidak baik bagi kita. Jangan jual agama untuk kepentingan duniawi,” katanya.

Selain itu Ia juga meminta agar kata “madani” diterjemahkan secara jelas apakah itu mengacu ke masyarakat Madinah atau kepada civil society (kemasyarakatan -red). “Kalau mengacu ke masyarakat Madinah, Ripda saja banyak yang harus dicoret- coret,” tegasnya.

Selain itu, masukan lainnya juga disampaikan Tandri Eka Putra, pemred padek.co agar tim ahli menggunakan pengertian dan standar nasional dan internasional dalam penyusunan naskah akademik. “Kalau indikator wisata halal sebaiknya pakai standar GMTI, yang dipakai lembaga cressenrating. Kalau kita buat standar sendiri, nanti berpengaruh pada rating Sumbar pada lembaga global,” terangnya

Masukan lainnya juga disampaikan pemred Metro Andalas, Eko Yanche perlu dipikirikan apakah Perda ini nantinya bisa mengikat kabupaten dan kota. “Mengingat kewenangan provinsi tidak ada pariwisatanya,” sebutnya. Ia memperkirakan Perda wisata halal nantinya tidak akan efektif, jika tidak mengikat kabupaten dan kota.

Waktu penyusunan yang dinilai cukup lama,  juga diminta peserta agar disegerakan. Pada April 2016 lalu, Provinsi NTB datang ke Sumatera Barat untuk membuat Perda wisata halal. Namun Sumbar hingga kini belum juga memiliki Perda tersebut.

Selain itu juga terdapat masukan agar jangan ada zoonasi terhadap wisata halal. “Nantinya akan ada daerah yang halal dan daerah yang boleh melakukan wisata haram,” terang ketua MUI Sumbar.

Tim ahli menyatakan tidak akan memberikan penjelasan, namun akan menampung semua masukan. Semua masukan akan menjadi pertimbangan dalam penyusunan naskah akademik untuk persiapan Ranperda dan Perda nantinya.

Dikutip dar: https://sumbarprov.go.id/onsmart/news/12667

27 Maret 2019

Sumber Foto: Republika/Putra M Akbar
 

(Sumber: REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA) -- Pemahaman masyarakat yang masih kurang mengenai definisi wisata halal menjadi salah satu kendala yang menyebabkan destinasi halal Indonesia dinilai masih kurang populer. Masyarakat di negara mayoritas muslim seperti Indonesia cenderung melihat wisata halal sama dengan wisata religi.

"Jadi masalah pemahaman pariwisata halal, yang jadi bias di masyarakat. Karena masyarakat mikirnya wisata halal itu sama dengan wisata syariah atau religi," ujar Pakar Pariwisata Universitas Andalas, Sari Lenggogeni, kepada Republika Senin (25/3).

Sari menjelaskan wisata halal merupakan adopsi dari negara- negara non Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang melihat potensi besar dari pertumbuhan muslim di seluruh dunia. Wisata halal diciptakan untuk mewadahi kebutuhan beribadah bagi para muslim di negara- negara non OKI, seperti penyediaan tempat ibadah (mushola) dan restoran halal.

"Tetapi hal ini kemudian menjadi miss-intepretasi ketika Kementerian Pariwisata mengadopsi wisata halal, karena diciptakan di negara yang mayoritas muslim seperti Indonesia. Karena mayoritas muslim jadi masyarakat pikir semuanya sudah pasti halal dan wisata halal sama seperti wisata religi," paparnya.

Sari menjelaskan ada tiga jenis wisata religi. Pertama, wisata dengan tujuan beribadah (pilgrim) seperti haji dan umroh. Kedua, wisata bersifat islami contohnya berwisata ke Turki untuk melihat sejarah kebudayaan Islam usai melakukan ibadah umroh. Ketiga, wisata halal yakni pemenuhan ibadah muslim saat mereka berwisata seperti mushola dan restoran halal.

"Jadi mereka melihat seperti wisata syariah Aceh. Di Aceh memang hukumnya syariah, jadi sudah sejak awal terikat hukum syariah. Sementara provinsi yang lain tidak seperti itu," jelas Sari.

Sama halnya seperti di Sumatera Barat masih pakai hukum adat. Persepsi karena di Sumbar mayoritas muslim dan menggunakan falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (Adat itu berfalsafah pada Al quran), maka setiap apapan kegiatan harus bereferensi ke Alquran. 

Hal inilah yang membuat mispersepsi muncul sehingga membuat banyak masyarakat yang bingung. Masyarakat menganggap wisata di kedua provinsi tersebut sama dengan wisata religi.

"Makanya perlu regulasi untuk menyamakan persepsi. Regulasi ini yang mentok. Tidak akan berjalan dengan baik tanpa ada regulasi. Regulasi ini yang memberikan perlindungan dan asistensi pada pemerintah, wisatawan, stakeholder dan investasi, dan souvenirnya," jelas Sari.

Dikutip dari : https://m.republika.co.id/berita/gaya-hidup/travelling/19/03/25/pox1lw459-masyarakat-masih-salah-paham-pengertian-wisata-halal#fb-root

 
27 Maret 2019

(sumber:gomuslim). Kementerian Pariwisata sudah menggencarkan wisata halal di berbagai wisata daerah. Namun di kalangan masyarakat, istilah wisata halal masih kurang

populer dan sosialisasi. Meski masyarakat Indonesia mayoritas beragama muslim, cenderung masyarakat melihat wisata halal sama dengan wisata religi. Pakar Pariwisata Universitas Andalas, Sari Lenggogeni mengatakan masalah pemahaman pariwisata halal menjadi bias di tengah masyarakat.

Sumber foto : gomuslim

“Masyarakat masih menganggap wisata halal sama dengan wisata syariah atau religi," ujar Sari.

Namun, lanjut Sari, istilah wisata halal merupakan adopsi dari negara- negara non Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang melihat potensi besar dari pertumbuhan Muslim di seluruh dunia. Wisata halal diciptakan untuk mewadahi kebutuhan beribadah bagi para Muslim di negara-negara non OKI, seperti penyediaan tempat ibadah (mushola) dan restoran halal.

Dikenyataannya, hal ini menjadi miss intepretasi ketika Kementerian Pariwisata mengadopsi wisata halal, karena diciptakan di negara yang mayoritas Muslim seperti Indonesia. “Karena mayoritas Muslim jadi masyarakat berpikir semuanya sudah pasti halal dan wisata halal sama seperti wisata religi," tandas dia.

Ada tiga jenis wisata religi. Pertama, wisata dengan tujuan beribadah (pilgrim) seperti haji dan umroh. Kedua, wisata bersifat Islami seperti berwisata ke Turki untuk melihat sejarah kebudayaan Islam usai melakukan ibadah umroh. Ketiga, wisata halal yakni pemenuhan ibadah Muslim saat mereka berwisata seperti mushola dan restoran halal.

"Jadi mereka melihat seperti wisata syariah Aceh. Di Aceh memang hukumnya syariah, jadi sudah sejak awal terikat hukum syariah. Sementara provinsi yang lain tidak seperti itu," jelas Sari.

Sama halnya seperti di Sumatera Barat masih pakai hukum adat. Persepsi karena di Sumbar mayoritas muslim dan menggunakan falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (Adat itu berfalsafah pada Alquran), maka setiap apapan kegiatan harus bereferensi ke Alquran. 

Hal inilah yang membuat masyarakat menjadi bingung dengan istilah wisata religin dengan wisata halal. Masyarakat menganggap wisata di kedua provinsi tersebut sama dengan wisata religi.

Karena itu, perlu adanya regulasi untuk menyamakan persepsi. Sayangnya, hambatan justru ada di bagian regulasi.

 “Tidak akan berjalan dengan baik tanpa ada regulasi. Regulasi ini yang memberikan perlindungan dan asistensi pada pemerintah, wisatawan, stakeholder dan investasi, dan souvenirnya," pungkas Sari. (nat/rep/dbs/foto: acehtourism).

Dikutip dari. https://www.gomuslim.co.id/read/news/2019/03/26/11245/-p-pakar-pariwisata-masyarakat-masih-ada-em-miss-em-persepsi-wisata-halal-dan-wisata-religi-p-.html

15 Maret 2018

 

Akhir minggu lalu 15 mahasiswa asing dari 10 (Hungaria, Cheko, Vietnam, Thailand, Mesir, Madagaskar, Cambodja, Jepang, Australia, Philipine) negara yang merupakan program Kantor Urusan Internasional Universitas Andalas bekerjasama dengan Tourism Development Centre menikmati real life experiences di sebuah nagari "Jawi Jawi" yang merupakan binaan dari Tourism Development Centre Unand bersama pegiat wisata bundo Syafria Wati beserta tim pegiat TP3T mak etek zuhrizul dan bundo Fat, pemkab dan masyarakat setempat.

Untuk mewujudkan konsep Slow Tourism yang mendukung program sustainable tourism development dengan menjaga keseimbangan sosial budaya, ekonomi dan lingkungan, maka desain program yang dibuat pun menyesuaikan dengan blueprint destinasi yang kita create.

Sebelum masuk ke wilayah Jawi Jawi wisatawan akan masuk ke Tourist Information Centre di salah satu rumah gadang warga agar wisatawan di briefing tentang regulasi yang harus mereka patuhi selama di destinasi, dan diberi penjelasan nagari Jawi Jawi serta benefit values apa yang mereka dapatkan selama trip di Jawi Jawi. Kemudian wisatawan mengenakan tingkuluak dan sarung pakaian khas yang saat ini merupakan salah satu budaya (budaya sehari hari /bukan rekayasa) yang ada di nagari ini. Setelah penyambutan seremonial sebagaimana tradisi di nagari ini wisatawan diajak makan bajamba. Siang mereka mulai berinteraksi dengan masyakat setempat melalui program anak nagari, sebelum kemudian mereka diperkenalkan pada budaya mandi di pincuran (tentu terpisah antara laki2 dan perempuan). Sore pun mereka menikmati "mindfulness" spot premium diatas hamparan sawah coffee time dan katan hitam (yang membuat salah seorang peserta mengumpulkan sisa sisa temannya untuk dimakan saking enaknya). Mereka terpesona dengan keindahan hamparan hijau yang ada di depan mata sambil menikmati kopi khas Jawi jawi yang super enak. Setelah pulang dan makan malam bajamba wisatawan segmen edukasi terkagum dengan 3 river art perfomance show ( sejatinya akan dilaksanakan di dekat sungai namun karena hujan dipindahkan ke halaman rumah gadang). Mereka kagum dan happy, berinteraksi dengan randai diiringi ritme musik tradisional yang cheerful. Kemudian penampilan debus begitu magisnya banyak yang ingin coba, salah satunya mahasiswa Thailand yang berhasil naik ke tangga dari celurit/ ladiang tajam dan beberapa ikut menginjak pecahan kaca.

Malam hari peserta laki laki mulai memasuki "parlemen lapau" ota lapau dan bercengkerama dengan tokoh2 ota lapau, saking asiknya kembali sudah pukul 2 malam. Esok pagi sejatinya dilakukan 2K village walk tour menyusuri kampung dan sungai dan menikmati mindfulness breakfast dengan view Mt.Talang, tapi ternyata ketiduran! Sehingga moment sunrise hilang. Mereka tetap berangkat menggunakan mobil pick up terbuka khas masy Jawi Jawi dan sangat excited ( tentu safety issue tetap dperhatikan). Kemudian untuk kepedulian lingkungan mereka ikut menanam bibit ke sawah dan happy dengan mud party nya disambung mandi di sungai sampai puas serta ota lapau. Trakhir flow pariwisata harus ada interaksi ekonomi dimana kita juga sulap museum mini dan souvenir centre di salah satu rumah gadang masyarakat setempat.. Tidak terasa jam sudah menunjukkan angka 3 (sore) dan bersiap kembali ke Padang tapi sepertinya mereka ga mau pulang karena kita belajar tari piring dan randai bersama sampai jarum jam berada di angka 5. Saatnya pergi tapi salah seorang peserta dari Vietnam berkata " saya suka Jawi Jawi, saya mau tinggal disini saja, saya mau tinggal disini saja (2×)".

Itu sebab mengapa Jawi Jawi Slow Tourism Village menawarkan : harmony, happiness, mindfulness dan slowfood.

Terimakasih yang sedalam2nya untuk masyarakat Jawi Jawi, pak wali nagari dan ibu, bu Emi, ketua dan sekretaris pokdarwis, tim randai, tim debus, tim inang, tim kuliner, tim logistik, tim parlemen lapau, adek adek kecil yang selalu ikut dengan kami, dan semua yang telah ikut dalam kebersamaan kemarin.

Untuk Pemkab Solok, pak assisten Edisar Dtm Basa, pak kadis Yandra Prasat, pak Marcos, pak Nolly Eka Mardianto dan tim yang berkomitmen penuh membangun nagari ini.

Special thanks untuk bundo wati, peranan beliau membesarkan nagari ini luar biasa. Uda Edy Utama atas kolaborasi ide cemerlangnya, uni Ade ZanZi untuk semangatnya, pak Elvis Kasmir atas videonya.

Untuk adek adek tim INFOSUMBAR yang berkenan ikut 2 hari bersama kita dengan segala keceriaannya. Untuk harian padeks dan teman2 media trimakasih atas atensi untuk Jawi Jawi.

Segelintir pengabdian kami mudah2an memberi manfaat. Prinsip kami trus berbakti untuk negeri, tentang apa yang orang fikirkan setelah itu, bukan tanggung jawab kami lagi.

Salam pariwisata dari Tourism Development Centre Universitas Andalas.

 

 

Jawi-Jawi Photo Gallery

18 November 2017

Mendukung Kepariwisataan, Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif berbasis  Inovasi dan Pembangunan Keberlanjutan

 

.

Sektor pariwisata merupakan sector unggulan atau leading sector yang merupakan salah satu kunci penting untuk pembangunan wilayah pada suatu negara dan peningkatan kesejahteraan masyarakat (United Nation World Tourism Organizations, 2017). Meningkatnya kualitas daya saing destinasi dan investasi pariwisata, menjadikan sektor  pariwisata sebagai faktor kunci dalam kontributor dalam pendapatan ekspor, penciptaan lapangan kerja, pengembangan usaha dan infrastruktur. 

 

Sektor Pariwisata telah mengalami ekspansi dan diversifikasi berkelanjutan, dan menjadi salah satu  sektor ekonomi yang terbesar dan tercepat pertumbuhannya di dunia. Data Organisasi PBB untuk Pariwisata/United Nation World Tourism Organization/UNWTO (UNWTO Tourism Highlight, 2014), menunjukkan bahwa kontribusi sektor pariwisata terhadap GDP dunia sebesar 9%, 1 dari 11 pekerjaan diciptakan oleh sektor pariwisata, kontribusi terhadap nilai ekspor dunia sebesar USD 1.4 trilliun atau setara dengan 5% ekspor yang terjadi di dunia.Sektor pariwisata berdasarkan laporan dari UNWTO tetap bertumbuh positif walaupun terjadi fluktuasi yang disebabkan oleh timbulnya krisis dan bencana di beberapa titik didunia.  UNWTO memperkirakan pada tahun 2030 jumlah pergerakan wisatawan internasional yang berkunjung ke destinasi pariwisata dunia akan mencapai jumlah 1,8 milyar orang dan pergerakan wisatawan domestik sebanyak 5 sampai 6 milyar orang.

 

Di Indonesia, kepariwisataan juga merupakan sektor unggulan yang menjadi prioritas nasional saat ini. Dalam RPJM 2014-2019, sektor wisata dijadikan sebagai sektor unggulan konsep pembangunan NAWACITA. Sektor Pariwisata mendapatkan urutan ke-4 penyumbang devisa terbesar di Indonesia dengan jumlah sebesar 172,8 Triliun Rupiah ( tahun 2016) setelah Minyak dan gas bumi, Batu Bara, Minyak kelapa sawit (Kementrian Pariwisata). Sektor ini mengalami pertumbuhan dibandingkan ketiga sector lainnya energi yang terus menurun karena keterbatasan sumber daya, dan diperkirakan sector pariwisata akan terus bertumbuh menjadi penyumbang terbesar PDB di Indonesia.

 

Kontribusi sector pariwisata pada PDB nasional secara berturut turut meningkat dari 9,2%atau sebesar Rp 841,4 M tahun 2013, 9,3%  atau meningkat sebesar 9,3 % atau sebesarr Rp 946,9 M dan tahun 2016 meningkat sebesar 11 %.  Dengan penyerapan jumlah tenaga kerja sebesar 11,7 juta orang pada tahun 2015. Secara mikro telah terjadi peningkatan jumlah wisatawan mancanegara sebesar 12 juta orang dan wisatawan nusantara sebesar 260 juta kali perjalanan. Peningkatan daya saing pariwisata Indonesia di global juga meningkat menjadi rangking 50 / 141 negara berdasarkan Travel and Tourism Competitiveness Index ( tahun 2015) meningkat dari posisi ke 50 (tahun 2013). 

 

Berdasarkan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Nasional (RIPPARNAS) tahun 2010-2025 pasal 2, visi pembangunan kepariwisataan nasional adalah terwujudnya Indonesia sebagai negara tujuan pariwisata berkelas dunia, berdaya saing, berkelanjutan, mampu mendorong pembangunan daerah dan kesejahteraan rakyat. Dalam mewujudkan visi tersebut, empat misi pembangunan kepariwisataan meliputi:

  • ·         Destinasi Pariwisata yang aman, nyaman, menarik, mudah dicapai,, berwawasan lingkungan, meningkatkan pendapatan nasional, daerah dan masyarakat;
  • ·         Pemasaran Pariwisata yang sinergis, unggul, dan bertanggung jawab untuk meningkatkan kunjungan wisatawan nusantara dan mancanegara;
  • ·         Industri pariwisata yang berdaya saing, kredibel, menggerakkan kemitraan usaha, dan bertanggung jawab terhadap alam dan sosial budaya; dan
  • ·         Organisasi Pemerintah, Pemerintah Daerah, swasta dan masyarakat, sumber daya manusia, egulasi, dan mekanisme operasional yang efektif dan efisien dalam rangka mendorong terwujudnya Pembangunan Kepariwisataan yang berkelanjutan.

Dalam mencapai beberapa capaian sektor kepariwisataan Indonesia pada pembangunan nasional, dibutuhkan kajian kajian terbaru dan sumbangsih pemikiran dari akademisi sebagai bagian dari pentahelix Akademisi, Bisnis, Government, Community, Media (ABGCM) sebagai aspek aspek penting pendoron kepariwisataan di Indonesia. Untuk itu dalam upaya menyebarluaskan pemikiran dan kajian terkait kepariwisataan, kebudayaan dan ekonomi kreatif sebagai sector penunjang kepariwisataan di Indonesia. Tourism Development Centre Andalas University atau Pusat Pengembangan  Kepariwisataan, Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif Universitas Andalas bermaksud menghimpun beberapa pemikiran dan kajian ketiga sector itu pada buku “ Pemikiran Universitas Andalas tentang Kepariwisataan, Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif – Mendukung Kepariwisataan, Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif berbasis Inovasi dan Pembangunan Keberlanjutan”

 

 

Halaman 2 dari 3

Events

No events

We Are On Press

Pengumpan tidak ditetapkan