15 Maret 2018

 

Akhir minggu lalu 15 mahasiswa asing dari 10 (Hungaria, Cheko, Vietnam, Thailand, Mesir, Madagaskar, Cambodja, Jepang, Australia, Philipine) negara yang merupakan program Kantor Urusan Internasional Universitas Andalas bekerjasama dengan Tourism Development Centre menikmati real life experiences di sebuah nagari "Jawi Jawi" yang merupakan binaan dari Tourism Development Centre Unand bersama pegiat wisata bundo Syafria Wati beserta tim pegiat TP3T mak etek zuhrizul dan bundo Fat, pemkab dan masyarakat setempat.

Untuk mewujudkan konsep Slow Tourism yang mendukung program sustainable tourism development dengan menjaga keseimbangan sosial budaya, ekonomi dan lingkungan, maka desain program yang dibuat pun menyesuaikan dengan blueprint destinasi yang kita create.

Sebelum masuk ke wilayah Jawi Jawi wisatawan akan masuk ke Tourist Information Centre di salah satu rumah gadang warga agar wisatawan di briefing tentang regulasi yang harus mereka patuhi selama di destinasi, dan diberi penjelasan nagari Jawi Jawi serta benefit values apa yang mereka dapatkan selama trip di Jawi Jawi. Kemudian wisatawan mengenakan tingkuluak dan sarung pakaian khas yang saat ini merupakan salah satu budaya (budaya sehari hari /bukan rekayasa) yang ada di nagari ini. Setelah penyambutan seremonial sebagaimana tradisi di nagari ini wisatawan diajak makan bajamba. Siang mereka mulai berinteraksi dengan masyakat setempat melalui program anak nagari, sebelum kemudian mereka diperkenalkan pada budaya mandi di pincuran (tentu terpisah antara laki2 dan perempuan). Sore pun mereka menikmati "mindfulness" spot premium diatas hamparan sawah coffee time dan katan hitam (yang membuat salah seorang peserta mengumpulkan sisa sisa temannya untuk dimakan saking enaknya). Mereka terpesona dengan keindahan hamparan hijau yang ada di depan mata sambil menikmati kopi khas Jawi jawi yang super enak. Setelah pulang dan makan malam bajamba wisatawan segmen edukasi terkagum dengan 3 river art perfomance show ( sejatinya akan dilaksanakan di dekat sungai namun karena hujan dipindahkan ke halaman rumah gadang). Mereka kagum dan happy, berinteraksi dengan randai diiringi ritme musik tradisional yang cheerful. Kemudian penampilan debus begitu magisnya banyak yang ingin coba, salah satunya mahasiswa Thailand yang berhasil naik ke tangga dari celurit/ ladiang tajam dan beberapa ikut menginjak pecahan kaca.

Malam hari peserta laki laki mulai memasuki "parlemen lapau" ota lapau dan bercengkerama dengan tokoh2 ota lapau, saking asiknya kembali sudah pukul 2 malam. Esok pagi sejatinya dilakukan 2K village walk tour menyusuri kampung dan sungai dan menikmati mindfulness breakfast dengan view Mt.Talang, tapi ternyata ketiduran! Sehingga moment sunrise hilang. Mereka tetap berangkat menggunakan mobil pick up terbuka khas masy Jawi Jawi dan sangat excited ( tentu safety issue tetap dperhatikan). Kemudian untuk kepedulian lingkungan mereka ikut menanam bibit ke sawah dan happy dengan mud party nya disambung mandi di sungai sampai puas serta ota lapau. Trakhir flow pariwisata harus ada interaksi ekonomi dimana kita juga sulap museum mini dan souvenir centre di salah satu rumah gadang masyarakat setempat.. Tidak terasa jam sudah menunjukkan angka 3 (sore) dan bersiap kembali ke Padang tapi sepertinya mereka ga mau pulang karena kita belajar tari piring dan randai bersama sampai jarum jam berada di angka 5. Saatnya pergi tapi salah seorang peserta dari Vietnam berkata " saya suka Jawi Jawi, saya mau tinggal disini saja, saya mau tinggal disini saja (2×)".

Itu sebab mengapa Jawi Jawi Slow Tourism Village menawarkan : harmony, happiness, mindfulness dan slowfood.

Terimakasih yang sedalam2nya untuk masyarakat Jawi Jawi, pak wali nagari dan ibu, bu Emi, ketua dan sekretaris pokdarwis, tim randai, tim debus, tim inang, tim kuliner, tim logistik, tim parlemen lapau, adek adek kecil yang selalu ikut dengan kami, dan semua yang telah ikut dalam kebersamaan kemarin.

Untuk Pemkab Solok, pak assisten Edisar Dtm Basa, pak kadis Yandra Prasat, pak Marcos, pak Nolly Eka Mardianto dan tim yang berkomitmen penuh membangun nagari ini.

Special thanks untuk bundo wati, peranan beliau membesarkan nagari ini luar biasa. Uda Edy Utama atas kolaborasi ide cemerlangnya, uni Ade ZanZi untuk semangatnya, pak Elvis Kasmir atas videonya.

Untuk adek adek tim INFOSUMBAR yang berkenan ikut 2 hari bersama kita dengan segala keceriaannya. Untuk harian padeks dan teman2 media trimakasih atas atensi untuk Jawi Jawi.

Segelintir pengabdian kami mudah2an memberi manfaat. Prinsip kami trus berbakti untuk negeri, tentang apa yang orang fikirkan setelah itu, bukan tanggung jawab kami lagi.

Salam pariwisata dari Tourism Development Centre Universitas Andalas.

 

 

Jawi-Jawi Photo Gallery

18 November 2017

Mendukung Kepariwisataan, Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif berbasis  Inovasi dan Pembangunan Keberlanjutan

 

.

Sektor pariwisata merupakan sector unggulan atau leading sector yang merupakan salah satu kunci penting untuk pembangunan wilayah pada suatu negara dan peningkatan kesejahteraan masyarakat (United Nation World Tourism Organizations, 2017). Meningkatnya kualitas daya saing destinasi dan investasi pariwisata, menjadikan sektor  pariwisata sebagai faktor kunci dalam kontributor dalam pendapatan ekspor, penciptaan lapangan kerja, pengembangan usaha dan infrastruktur. 

 

Sektor Pariwisata telah mengalami ekspansi dan diversifikasi berkelanjutan, dan menjadi salah satu  sektor ekonomi yang terbesar dan tercepat pertumbuhannya di dunia. Data Organisasi PBB untuk Pariwisata/United Nation World Tourism Organization/UNWTO (UNWTO Tourism Highlight, 2014), menunjukkan bahwa kontribusi sektor pariwisata terhadap GDP dunia sebesar 9%, 1 dari 11 pekerjaan diciptakan oleh sektor pariwisata, kontribusi terhadap nilai ekspor dunia sebesar USD 1.4 trilliun atau setara dengan 5% ekspor yang terjadi di dunia.Sektor pariwisata berdasarkan laporan dari UNWTO tetap bertumbuh positif walaupun terjadi fluktuasi yang disebabkan oleh timbulnya krisis dan bencana di beberapa titik didunia.  UNWTO memperkirakan pada tahun 2030 jumlah pergerakan wisatawan internasional yang berkunjung ke destinasi pariwisata dunia akan mencapai jumlah 1,8 milyar orang dan pergerakan wisatawan domestik sebanyak 5 sampai 6 milyar orang.

 

Di Indonesia, kepariwisataan juga merupakan sektor unggulan yang menjadi prioritas nasional saat ini. Dalam RPJM 2014-2019, sektor wisata dijadikan sebagai sektor unggulan konsep pembangunan NAWACITA. Sektor Pariwisata mendapatkan urutan ke-4 penyumbang devisa terbesar di Indonesia dengan jumlah sebesar 172,8 Triliun Rupiah ( tahun 2016) setelah Minyak dan gas bumi, Batu Bara, Minyak kelapa sawit (Kementrian Pariwisata). Sektor ini mengalami pertumbuhan dibandingkan ketiga sector lainnya energi yang terus menurun karena keterbatasan sumber daya, dan diperkirakan sector pariwisata akan terus bertumbuh menjadi penyumbang terbesar PDB di Indonesia.

 

Kontribusi sector pariwisata pada PDB nasional secara berturut turut meningkat dari 9,2%atau sebesar Rp 841,4 M tahun 2013, 9,3%  atau meningkat sebesar 9,3 % atau sebesarr Rp 946,9 M dan tahun 2016 meningkat sebesar 11 %.  Dengan penyerapan jumlah tenaga kerja sebesar 11,7 juta orang pada tahun 2015. Secara mikro telah terjadi peningkatan jumlah wisatawan mancanegara sebesar 12 juta orang dan wisatawan nusantara sebesar 260 juta kali perjalanan. Peningkatan daya saing pariwisata Indonesia di global juga meningkat menjadi rangking 50 / 141 negara berdasarkan Travel and Tourism Competitiveness Index ( tahun 2015) meningkat dari posisi ke 50 (tahun 2013). 

 

Berdasarkan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Nasional (RIPPARNAS) tahun 2010-2025 pasal 2, visi pembangunan kepariwisataan nasional adalah terwujudnya Indonesia sebagai negara tujuan pariwisata berkelas dunia, berdaya saing, berkelanjutan, mampu mendorong pembangunan daerah dan kesejahteraan rakyat. Dalam mewujudkan visi tersebut, empat misi pembangunan kepariwisataan meliputi:

  • ·         Destinasi Pariwisata yang aman, nyaman, menarik, mudah dicapai,, berwawasan lingkungan, meningkatkan pendapatan nasional, daerah dan masyarakat;
  • ·         Pemasaran Pariwisata yang sinergis, unggul, dan bertanggung jawab untuk meningkatkan kunjungan wisatawan nusantara dan mancanegara;
  • ·         Industri pariwisata yang berdaya saing, kredibel, menggerakkan kemitraan usaha, dan bertanggung jawab terhadap alam dan sosial budaya; dan
  • ·         Organisasi Pemerintah, Pemerintah Daerah, swasta dan masyarakat, sumber daya manusia, egulasi, dan mekanisme operasional yang efektif dan efisien dalam rangka mendorong terwujudnya Pembangunan Kepariwisataan yang berkelanjutan.

Dalam mencapai beberapa capaian sektor kepariwisataan Indonesia pada pembangunan nasional, dibutuhkan kajian kajian terbaru dan sumbangsih pemikiran dari akademisi sebagai bagian dari pentahelix Akademisi, Bisnis, Government, Community, Media (ABGCM) sebagai aspek aspek penting pendoron kepariwisataan di Indonesia. Untuk itu dalam upaya menyebarluaskan pemikiran dan kajian terkait kepariwisataan, kebudayaan dan ekonomi kreatif sebagai sector penunjang kepariwisataan di Indonesia. Tourism Development Centre Andalas University atau Pusat Pengembangan  Kepariwisataan, Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif Universitas Andalas bermaksud menghimpun beberapa pemikiran dan kajian ketiga sector itu pada buku “ Pemikiran Universitas Andalas tentang Kepariwisataan, Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif – Mendukung Kepariwisataan, Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif berbasis Inovasi dan Pembangunan Keberlanjutan”

 

 

08 Juli 2017

 

Pembangunan pariwisata di Sumbar hendaklah mengacu pada azas pilar sustainability sesuai dengan yang telah diterapkan di United Nations World Tourism Organization (UNWTO).

Azas pilar "sustainability" atau berkelanjutan yang dimaksud dalam hal ini meliputi aspek ekonomi, sosial dan lingkungan.

Apabila ketiga aspek ini apabila saling dikaitkan maka akan menjadi pengembangan ekonomi berbasis lingkungan, sosial berbasis lingkungan dan sosial ekonomi. Ketiga elemen yang terkait tersebut harus dijadikan dasar dalam perencanaan pembangunan pariwisata agar dia tidak bersifat "short periode" atau jangka pendek.

Pengembangan pariwisata hendaklah bersifat jangka panjang serta pelestarian terhadap hal yang terkait dengan masyarakat, budaya dan lingkungan agar berdampak pada penambahan nilai ekonomi. Pelestarian alam dalam pengembangan pariwisata juga sudah diatur oleh pemerintah melalui Peraturan Menteri Kehutanan.

Terkait pemanfaatan alam sebagai destinasi wisata pemerintah juga sudah mengaturnya dalam Peraturan Menteri Kehutanan RI Nomor P.22/Menhut-II/2012 tentang pedoman kegiatan usaha pemanfaatan jasa lingkungan wisata alam pada hutan lindung.

Statement ini juga dimuat di https://sumbar.antaranews.com/berita/202003/pengamat-pariwisata-harus-perhatikan-kelestarian-lingkungan.html

Oleh:

Dr. Sari Lenggogeni, SE, MM

 

07 Juli 2017

Contoh Bentuk dan Isi Papan Informasi Wisata Kabupaten Pesisir Selatan

Padang, (Antara Sumbar) - Pengamat pariwisata dari Pusat Kajian Pariwisata Universitas Andalas (Unand) Padang, Sumatera Barat, Sari Lenggogeni menyarankan setiap kabupaten/kota di provinsi itu agar membentuk pusat informasi pariwisata.
 
"Setiap kabupaten/kota hendaknya punya pusat informasi untuk setiap wisatawan, terutama wisatawan yang yang datang tanpa menggunakan travel agen," katanya di Padang, Selasa.
 
Ia menyebutkan selain pusat pelayanan informasi, pemerintah daerah juga dapat memperbanyak iklan-iklan terkait informasi destinasi wisata yang ada di daerah mereka.
 
Menurutnya seiring dengan majunya teknologi pemerintah juga bisa merancang aplikasi untuk android terkait informasi wisata yang ada.
 
"Tidak semua wisatawan yang datang ke Sumbar itu menggunakan jasa perjalanan, jadi bagi mereka yang tidak menggunakan jasa tersebut akan kesulitan mendapatkan informasi guna menentukan tujuan mereka," kata dia.
 
Ia mengatakan berdasarkan hasil penelitiannya pada umumnya wisatawan yang datang tanpa menggunakan jasa perjalanan wisata tidak memiliki informasi apa-apa tentang wisata di Sumbar.
 
Untuk lebaran ini menurutnya hal seperti itu akan banyak terjadi, sebab wisatawan yang ada di Sumbar umumnya adalah para perantau yang sudah lama tidak pulang kampung.
 
"Dengan adanya informasi yang memadai maka wisatawan bisa memilih daerah mana yang akan dikunjungi, sebab umumnya kebupaten/kota yang di Sumbar memiliki banyak destinasi wisata pilihan," katanya.
 
Terkait dengan informasi pariwisata, Kota Padang sudah memiliki sebuah aplikasi di android yang berfungsi sebagai sumber informasi terkait pariwisata yang ada di daerah itu.
 
Wali Kota Padang, Mahyeldi mengatakan Kota Padang saat ini sudah aplikasi bernama "Padang City Guide" yang berisi beragam informasi tentang Kota Padang.
 
Beberapa menu yang tersedia adalah lokasi ATM, Bandara, Bank, Dokter, Hiburan, Hotel, Kampus, Kantor Pemerintah, Kesehatan dan Kecantikan, Kuliner, Masjid, Otomotif, Perkantoran, Perpustakaan, Polisi dan Darurat, Rekreasi, Rental Mobil dan hingga menu terakhir Tour dan Travel.
 
"Tinggal unduh dan semua tempat yang ada di Padang tersaji di aplikasi tersebut," katanya. (*)
 
Halaman 3 dari 5

Events

No events

We Are On Press

Pengumpan tidak ditetapkan