Print this page

Riset BI dan TDC Unand, Ini Ganjalan Kemajuan Pariwisata Sumbar

PADANG – Bank Indonesia mengungkap beberapa kendala yang menjadi penghambat kemajuan pariwisata Sumatera Barat pada pertemuan tahunan, Rabu (4/12/2019). Ganjalan tersebut didapat berdasarkan hasil riset Bank Indonesia bekerja sama dengan Tourism Development Center (TDC) Universitas Andalas, Oktober 2019 lalu.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) wilayah Sumatera Barat Wahyu Purnama A mengungkapkan, riset tersebut untuk mengevaluasi kinerja Atraksi, Amenitas, Aksesibilitas, Promosi dan Pelaku Usaha (3A2P) di sembilan wilayah kabupaten dan kota.

WIlayah yang menjadi tujuan riset adalah Kota Padang, Bukittinggi, Sawahlunto, Payakumbuh. Kemudian Kabupaten 50 Kota, Solok, Tanahdatar, Pesisir Selatan dan Kabupaten Agam.

“Dari riset yang dilakukan, didapati beberapa hambatan yang menjadi kendala secara umum di Sumatera Barat,” kata Wahyu.

Penghambat tersebut antara lain adalah kepemilikan lahan dan belum adanya atraksi yang berbasis aktivitas sehingga berpengaruh pada lama tinggal (length of stay). Kemudian, masalah higienis pada produk kuliner dan packaging yang kurang unik, serta sampah.

Faktor penghambat berikutnya yang didapati adalah kendala koordinasi dan komunikasi antar stakeholder. Ini membuat pengembangan pariwisata tidak terintegrasi sehingga cenderung belum memiliki keunikan masing – masing.

“Terakhir, yang didapati sebagai hambatan adalah ketersediaan sumber daya manusia (SDM) pariwisata yang belum memadai disertai budaya pelayanan yang belum optimal,” bebernya.

Untuk itu, Wahyu mengajak pemerintah daerah dan lembaga, pelaku usaha, perbankan, tokoh masyarakat dan tokoh adat untuk bersinergi, bertransformasi dan berinovasi dalam pengembangan pariwisata ke depan. Juga perlu secara proaktif menarik investor dalam negeri dan juga luar negeri.

Wahyu mengungkapkan, Sumatera Barat memiliki modal yang kuat untuk membangun sektor pariwisatanya. Pariwisata bisa menjadi modal yang kuat sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru. Potensi alam Sumatera Barat sangat memungkinkan untuk hal tersebut.

Infrastruktur penunjang pariwisata saat ini juga sudah terlihat semakin baik. Rasio jalan mantap di Sumatera Barat sudah mencapai 82,5 persen. Pembangunan infrastruktur lainnya juga terus digenjot. (fdc)

 

Sumber: https://padangmedia.com/riset-bi-dan-tdc-unand-ini-ganjalan-kemajuan-pariwisata-sumbar/